29 April 2016

Belajar Berlibur Bersama Mas Rangga

Selalu ada satu hal yang bisa dipelajari.
–Steve Jobs

Rasanya geli sekali mengingat beberapa hal yang saya lakukan sehari sebelum ikutan program Grand Field Trip ke Jungle Land bersama para siswa, kolega guru, dan staff di sekolah. Saya mencuci sepatu, menyetrika pakaian, pergi ke barber shop, dan menemui dosen saya untuk menuntaskan urusan tugas kuliah. Beberapa hal tersebut bahkan pernah lupa saya lakukan ketika Ied Fitri.

Bersama Ana2

Hari itu sebagaimana manusia normal yang benar-benar mengidamkan hari libur yang asyik, saya bertekad bahwa perjalanan ke Jungle Land besok haruslah sempurna. Saya tidak peduli apakah Ahok bakal memenangi pilkada Jakarta atau tidak.

Saya seperti meresap dalam puisi Rangga di pilem Ada Apa dengan Cinta:

Aku ingin bingar/Aku mau di pasar/bosan aku dengan penat/dan enyah saja kau pekat/seperti berjelaga jika ‘ku sendiri.

Tanpa perlu menjadi tekstualis (yang benar-benar pergi ke pasar untuk mengusir sepi) saya mengadopsi energi dalam puisi ini ke Jungle Land saja.

Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah menyibukkan diri mengambil foto-foto untuk dokumentasi sekolah, saya segera duduk, di samping 2 orang siswa yang duduk dengan canggung. Di depan dan seberang 2 kolega guru membawa pasangan. Salah satunya Pak Dadang (semoga ia dikarunia murid-murid yang degil di kelasnya) yang dengan lancang bertanya:

“Pak Farid, pasangannya gak dibawa?” Sempat terpikir untuk berteriak “Mang, bukain jendela! Aing pengen loncaat!”

Tapi Bus tetap berjalan seperti seharusnya. Datanglah kemudian yang disebut penjajahan audio visual. Anak-anak sepakat untuk memutar klip Wali Band di televisi bus.  Saya sendiri segera memalingkan diri ke dalam diri dan mengingat-ingat perjalanan yang sering-sering, semisal bus yang hening, jalan tol yang tampak terus memanjang, lalu pohon-pohon yang berbaris di sisinya tak habis-habis, kemudian termenung-menung lalu jatuh tertidur dengan pikiran dan mata yang lelah.

Tapi anak-anak tak puas hanya dengan menonton, mereka juga tergelak dengan tawa yang pecah. Dan sialnya audio dalam bis bekerja sangat bagus. Saya benar-benar sulit mencari sunyi yang saya inginkan. Satu, kosong! Saya harus tahu diri. Anak-anak sudah seharusnya mendapatkan kesenangan dalam liburannya.

Setelah tidak tahu apa yang musti dilakukan lagi, saya segera memasang earphone dan memutar mussik. Diantara lirik-lirik lagu yang tidak saya pahami, saya mengetik sesuatu, hampir satu jam. Lalu bosan, membuka dan mengobrol di Grup WA, joke-nya selalu sama (tema-tema sedih guru single), lalu bosan. Menulis dan membaca PM, lalu bosan. Melanjutkan bacaan lama, habis beberapa halaman, kemudian bosan. Dan tahu-tahu Bus sudah sampai tujuan.  Rasanya lucu sekali bagaiamana cara saya menikmati perjalanan ini tanpa tidur. Dari bosan ke bosan.

Kami semua segera turun. Anak-anak berhamburan dari bus, mereka begitu sumringah, melangkah dengan kaki yang ringan, dan wajah mereka tampak cerah. Saya jadi merasa asing. Mereka terasa sangat berbeda dari hari-hari sekolah biasa. Saat mereka berhamburan dari kelas, berjalan dengan wajah lesu, mencangking buku ummi tergulung di tangan dengan tidak peduli, sambil mencari-cari guru ummi yang sering pindah-pindah tempat dan kadang suka agak telat. Alasannya Guru ummi kan musti wudhu dulu, ya kan? Hehe. Begitu mereka duduk dalam lingkaran, segera menguar kejenuhan mereka dari aroma keringat dan suara-suara sumbang saat merapal doa pembuka.

Tapi hari itu saya baru tahu kalau suasana hati bisa mengubah mereka menjadi tampak begitu tampan-tampan dan cantik-cantik. Btw saya juga baru tahu kalau Bu Susanti memang secantik yang dibilang guru-guru single sedih lainnya (eh kok jadi salah fokus sih?).

Singkatnya saya mulai merasakan energi mereka merasuk dan mengajak saya bergabung. Segera saya menguasai megaphone, menyerahkan kamera pada pak Rizki, mengajak anak-anak dan kolega guru berfoto, lalu berputar-putar dan bicara apa aja di antara anak-anak yang girang. Seolah-olah hari itu kegembiraan bisa mendaratkan saya di planet Mars, sambil mengangkut karya-karya seni terbaik dalam sejarah umat manusia, juga beberapa binatang ternak, dan biji-bijian; untuk membangun sebuah peradaban baru di atas tanahnya. Oke, ini lebay.

Setelah melewati sesi-sains semua berpencar mengincar wahana permainan yang sesuai keinginan. Di saat-saat seperti itu saya berjalan sendirian dari wahana ke wahana. Tapi kemudian putus asa karena hampir setiap wahana yang saya inginkan harus dinaiki lebih satu orang, saya pun memutuskan untuk memperhatikan orang-orang yang berteriak panik dankegirangan. Rasanya aneh sekali melihat bagaimana kepanikan dan kegembiraan bisa menyatu seperti itu.

Tapi kemudian ada saja siswa atau guru yang usil bertanya “Kok sendirian, pak?” Ah. Rasanya kaya pengen ke jembatan, lalu melompat ke sungai yang penuh batu. Tapi syukurnya, tak jauh dari jembatan tersebut saya ketemu sekelompok guru berwajah lelah (atau putus asa?). Ada Pak Rizki, Pak Fauzi, Pak Irfan, Pak Dede, Bu Indi, Bu Mila. Kami mengobrol beberapa menit kemudian memutuskan untuk mencari permainan yang ramai.

Kami main semacam perahu air, kami tembak-tembakan melawan para siswa; sambil menebar teror “Awas Remedial!” Tapi tidak ampuh. Kami tetap saja basah kuyup. Para murid sudah tahu, bahwa tidak ada guru yang cukup gila untuk meremedial lebih dari 10 orang anak dengan 4 mata pelajaran. Kami senang dan sempat lupa bahwa kami bertujuh datang tanpa pasangan lal kami melanjutkan ke wahana lain, wahana yang tampak seru jika dilihat dari Wahana Kincir, dan ikut mengantre. Tapi kami semua hampir tidak percaya jika antrean ini lebih lama dari perkiraan. Kami mengantre hampir satu jam lebih untuk wahana yang berdurasi 1 menitan. Rasanya dongkol sekali. Wahana yang tadinya bernama “Water Lift” ini dengan semena-mena kami sebut dengan “Wahana Penantian”.

Bahkan saking lamanya antrean di wahana ini kami jadi khawatir kalau kami sudah keluar dari sini, anak-anak siswa kami sudah keburu jadi Mahasiswa.

Lalu bubarlah field trip ini. Masing-masing mencari teman untuk berfoto (lagi), beberapa murid juga mencari guru favoritnya untuk diajak berfoto. Semua tampak senang. Tahu-tahu ada yang ajak foto. Duh, saya jadi malu, tadinya saya kira hal itu tidak akan terjadi pada saya. Sejenak saya jadi kepikiran, betapa tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain mendapatkan rasa kagum dan sayang muridnya. Seandainya saya bisa melakukan itu pada Masyaikh saya waktu dulu.

Kemudian kami pulang dan mulai bertukar cerita. Ada guru yang sebelumnya berwajah bosan tapi mendadak gembira ketika naik mobil-mobil listrik yg disupiri teteh-teteh manis, ada juga guru silat yang mendadak tepar cuma karena ayunan. Ada juga guru olahraga yang kekar dan berteriak “Enggeusan Maaang.” Juga karena ayunan. Wahana yang nampak sepele tersebut benar-benar tidak bisa disepelekan. Yang sudah pada nikah aja gak tahan, apalagi kita-kita yang sering dicampakkan dan ditinggalkan?

Ah senangnya. Saya seperti belajar sesuatu hari ini. Lalu dalam bayangan saya Rangga melanjutkan puisinya...

'Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku/'Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
/Aku benci//

Pecahkan saja gelasnya biar ramai/ biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera/Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?//

Baiklah, Mas Rangga. Cukup sudah teriak-teriaknya. Untuk menghadapi berbagai kesepian, rasanya kami tidak perlu memecahkan gelas, membunyikan lonceng, atau berlari ke hutan lalu belok ke pantai. Capek, Mas.

Cara sederhana untuk mengusir sepi barangkali sesederhana ini: mulai berdamai dengan sepi itu sendiri, merelakan yang sudah-sudah, lalu menyimpan energi-energi keriangan di hari yang menyenangkan seperti ini untuk hari-hari bekerja esok. Gitu mungkin Bu Mila?

Eh, Pak Fauzi, soal itu semua kita pasti bisa kan? Ya, kan? 
Tolong yakinkan saya, ya.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...