04 June 2016

Humor dan Ironi

Orang lain adalah neraka
Jean Paul Sartre

Catatan ini saya cicil sejak hari Senin. Sehari setelah resepsi dan akad nikah teman kita: Selvia Nency yang selalu mendaku dirinya sebagai Nency Saphira Bastian, merujuk pada idolanya sejak SMA, Vino G. Bastian. Katanya, Aris, mantannya yang juga teman kita itu mirip Vino G. Bastian. Memang melihat keseluruhan paras Nency kita semua tahu bahwa Tuhan memang sangat baik padanya. Hanya saja agaknya Dia lupa memberikan Nency pandangan mata yang bagus.

Setelah bubar dengan Aris, dia dekat dengan beberapa orang. Ketika saya tanya apakah mereka ganteng, jawabannya selalu sama “gantengan kamu, Rid”. Demi Tuhan. Saya tidak tahu apakah dia terbawa kebiasaan pemilik salon yang selalu memuji semua pelanggannya; atau memang saya betul soal kealpaan Tuhan memberinya pandangan mata yang bagus tersebut.

Nency menikah pada hari Minggu tanggal 29 Mei 2016. Seminggu tepat setelah tanggal kelahiran saya. Dia berkelakar pernikahanya adalah kado ulang tahun saya. Saya ketawa kecut mendengarnya.

Setelah pernikahanya dia pasti akan berbeda. Begitu pikiran pertama saya. Ini bukan pertama kalinya punya teman yang cepat menikah. Diam-diam saya merasa sedikit kehilangan. Atau setidaknya mencemaskan hal tersebut. Tapi dia menikah dengan Dian, sahabatnya. Betapa melegakannya mengetahui hal itu.

Maka dia menikah begitu saja, di hari yang agak mendung di Karawang. Meski hujan semuanya berjalan lancar. Saya dan rombongan berangkat jam 2 siang. Kami melewatkan beberapa hal penting semisal akad nikahnya dan hal-hal lain. Untuk soal ini saya harap si Subki (laki-laki yang membuat kami menunggunya hampir 3 jam) dihukum dengan diikat kakinya ke motornya Rian, lalu diseret sepanjang 50 kilometer. Dan sisa tubuhnya diurai begitu saja ke kolam lele.

Sesampainya di tempat Nency, lewatlah Putri. Setelah Putri menyalami kami semua dan berpamitan pulang, kamipun ke Masjid. Datar saja. Memang ada beberapa mulut yang mengeluarkan suara norak semisal: cie cie cie. Kalau suara itu bukan keluar dari mulut Nenden atau Azizah, mungkin itu suara binatang pohon atau ulat bulu yang sedang kawin.

Di masjid bertemulah dengan rombongan Jakarta. Mereka datang dengan banyak orang. Aroka, Hubab, Nisun, Sani, Ririn,dan.. astaga! Rois kita, Rusydi. Cowok dambaan seluruh umat ini ternyata datang. Kejutan pasti cuma ada satu. Saya jadi tidak heran jika Salma tidak turut datang bersama mereka.

***

“Kenapa kamu punya hati yang seperti ini, Rid?” Tanya Ririn.

Sekian lama kami tidak bersua, juga tidak mengobrol di ruang chating semacam whatsap, line, dan lainnya nampaknya Ririn sudah belajar banyak soal membuka obrolan yang bagus kepada seorang kawan sekolah; atau seseorang seperti saya. Meski saya tidak tahu betul apa yang dimaksud dengan “orang seperti saya”.

"Maksudnya?" Tanya saya seolah-olah saya tidak paham bakal ke mana arah pembicaraan yang dimaksudkan agar penuh tawa ini.

“Ya, itu... ditinggal berkali-kali.” Nisun menyambar. Di balik bingkai kacamatanya, matanya membesar perlahan-lahan dan berbinar, seperti sedang menyiapkan diri untuk tertawa. Saya tahu apa arti ekspresi wajah  itu. Mata yang penuh pertemanan sekaligus niat kuat buat mengejek.

Sejak awal saya selalu ingin mengira ini cuma pertanyaan yang benar-benar bercanda dan berniat untuk memanjangkan obrolan. Hal yang sama dan sedikit agak kasar juga pernah ditanya-nyatakan teman yang tidak begitu akrab di twitter:

“Drama banget ya hidup kamu...”

Saya menyahutnya dengan (mungkin) sebuah kata “hahaha”. Kata yang baik untuk mengakhiri berbagai pembicaraan; sekaligus tidak membuat kita terkesan buruk di mata orang-orang yang ditimpa bencana-bencana serius semacam selera humor yang buruk, atau tatalogika kalimat yang membuat kita ingin menampar orang tersebut.

Memang begitu adanya. Mereka bercanda. Tapi apa yang lucu. Lebih dari itu, pernikahan Nency kemarin, sebenarnya apa dampaknya bagi saya? Dan bagaimana hal semacam itu bisa dijadikan momen yang tepat untuk membecandai saya?

"Gak tahu, nasib aja kali," jawabku sambil mengelus-ngelus dada dan tertawa kecil. Kami semua, saya, Nisun, Sani, dan Ririn tergelak. Tapi apa yang lucu? Saya tidak tahu pasti. Tapi kami tertawa.

Barangkali mereka tertawa karena saya seperti seseorang yang punya nasib apes. Itulah sebabnya kenapa kita suka humor-humor slapstick ala Chaplin,Warkop, atau apa saja yang menampilkan orang-orang apes dan sial. Yang melulu terpeleset jatuh, dikibuli habis-habisan, atau hal-hal lain yang membuat kita merasa lebih superior. Merasa keadaanya jauh lebih pintar, lebih beruntung dari yang kita ketawai.

Padahal urusan rasa saya di antara kami sudah lama sekali selesai. Pas semester 4 atau 5 gitu kami berempat: Azizah, Saya, Nency, dan Rian sudah saling aku-mengaku soal siapa-suka-siapa sambil menertawakan betapa lugunya kita semua pas SMA. Lagipula siapa yang boleh menyalahkan keluguan, bukan? Lalu semua acara ngaku-ngakunya selesai dengan makan-makan, ditraktir Nency. Tuntas.

Semenjak menginjak bangku kuliah. Utamanya setelah Nency memutuskan pindah dari Jakarta ke kampus kami yang sunyi. Di antara kami semua yang ada cuma sesama teman seangkatan: Infinte Brotherhood. Kami saling membantu. Dan saling mendukung satu sama lain. Rian mendengarkan Nency curhat, mengantar dan lain-lain. Saya sekali-kali membantunya mengerjakan makalah. Mengingatkannya urusan-urusan kuliah yang tidak boleh dia tinggalkan, juga mengantarnya untuk sekadar mendapatkan tempat yang nyaman untuk naik bus.

Karena sejak awal, kami semua, utamanya Nency berazam harus keluar dengan cara yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya dari kampus kami yang kecil lagi pencil dan tanpa peminat itu. Tak peduli apapun yang kami hadapi. Semisal penyakit, karir, jodoh, atau hal-hal normal lainnya yang menjadi brengsek ketika datang tidak tepat pada waktunya. Kuliah harus selesai.

Tanpa itu semua, apa artinya Infinite Brotherhood?

Apa artinya tagline persaudaraan angkatan kita yang kepanjangan dan dibuat oleh Aziz dengan penuh perasaan dan keluguan itu?

Nency selalu memastikan kami tidak lapar. Ketika saya baru bisa mengendarai motor saya sering menawarkan diri mengantarnya ke jalan besar, biar lebih mudah baginya naik bus. Semenjak masa-masa KKN saya juga beberpakali membiarkan Nency mendandani alis dan wajah saya seperti perempuan.Kemudian mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Saya tidak protes. Kecuali pas dia bagi di Facebook. Malu sama para santri.

Meski Nency tidak banyak bercerita bagaimana ia melalui hari-harinya, tapi saya mengerti, Nency mengalami banyak hari-hari yang berat. Hari-hari yang lebih menyebalkan dari saya. Saya cuma berusaha sebisanya memahami Nency. Lebih jauh dan lebih dalam di balik pembawaannya yang ceria, suaranya yang seolah-olah selalu di tengah pasar, juga riasan wajahnya yang selalu berhasil membuat alis dan matanya tampak serasi.

Nency adalah satu dari beberapa teman yang juga membuat saya mau belajar mengenali diri sendiri. Perkawanan saya dan Nency juga dengan yang lain mungkin tidak begitu penting bagi mereka. Saya tahu. Dan itu tidak penting. Saya tidak bisa mencintai diri sendiri. Jalan mencintai diri sendiri adalah dengan mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita. Berusaha sesedikit mungkin untuk ingin dianggap. Memberikan waktu yang ada. Mendengar keluh kesahnya. Atau memarahinya jika perlu.

Nency selalu baik pada saya. Barang dagangan atau jasa apapun yang saya tawarkan padanya selalu ia beli tanpa menawar. Malah seringkali ia menambahkan bonus dan tambahnya “kamu kan udah bekerja keras. Kamu layak dihargai.”

Suatu kali yang lain saya punya rejeki. Saya ingin sekali traktir doi. Pas udah makan dia malah bersikeras agar saya tidak membayar bill kami. Saya agak kesal. Tapi dia bilang “kamu boleh traktir saya kalau udah sukses. Sekarang kita masih sama-sama usaha. Jangan lupa berhemat.” Pesannnya sangat keibuan. Sangat kontras dengan karakter bawaannya.

Di acara resepsi kemarin saya sempat salah tingkah. Berkali-kali malah. Tapi semua itu tidak membuat saya menyesal ke tempat Nency kemarin. Saya tidak menyesal. Saya bahkan tidak akan menyesal jika ada orang brengsek tolol yang kesurupan sesosok jin yang baru saja pulang dari lauhil mahfudz mengintip catatan nasib si Ahmad Farid yang sudah ditetapkan untuk menjomblo seumur hidup. Peduli setan. Berada di antara orang-orang baik seperti Nency, kupikir, aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Ujug-ujug dulu ada yang bilang gini, “kamu orangnya pemilih temen gitu, Rid.” Eh, saya malah berusaha mengelak dengan penjelasan yang panjang-panjang. Kalau saja ada yang bilang gitu lagi, aku mau bilang “Tai!”

Bodo amat dengan pandangan orang tentang cara orang yang lain berteman. Memilih teman menurutku sama halnya dengan memilih apa yang ingin kita bangun dalam diri kita. Kata Aan Mansyur “Sudahkah kamu memeluk dirimu hari ini?” Barangkali juga semacam pertanyaan retorik; bahwa kamu mustahil memeluk diri sendiri. Untuk membuat dirimu hangat kamu harus memeluk orang lain (yang kamu pilih tentunya). Berkawan memang bisa dengan siapa saja, sepanjang butuh-sama-butuh. Tapi berteman, lebih jauh dan lebih dalam dari itu. Makanya tidak berlebihan (walaupun agak berlebihan sih sebenarnya) jika ada yang bilang: berteman sampai ke syurga.

Hal-hal yang dibicarakan tadi sebenarnya adalah hal-hal yang benar-benar melantur belaka. Tapi sejak awal saya bermaksud untuk menyinggung hal-hal kecil seperti ironi, humor, maupun persahabatan.

Sartre, si filsuf eksistensialisme yang membenci keramaian dan benci berhubungan dengan banyak orang itu, toh akhirnya diketahui dengan siapa saja ia menghabiskan hari-harinya. Baginya, orang lain barangkali memang selalu membuat hidupnya seperti di neraka. Tapi bagimana jika orang lain itu sudah ada yang menjadi bagian dari dirinya sendiri?

Ironi, saudara-saudara, sama nasibnya dengan perkara-perkara humorik, selalu menjadi tabir yang tipis antara dua hal: kebijaksanaan dan kemunafikan. Jika semakin banyak kamu sedih atau tertawa tapi tidak membuatmu lebih berbelaskasih, lebih pemaaf, dan lebih penyayang. Maka ia akan mendorongmu pada perkara-perkara yang membosankan semisal: dendam, sakit hati, kecongkakan, kesombongan, merasa superior, dll.

Hidup berkisar di antara ironi dan humor. Ironi, atau kesedihan, jika kita beruntung akan membangun kesadaran dalam diri kita; betapa sebagai manuisa kita teramat kerdil dan serba tak mampu. Sementara humor membuat kita merasa kuat, layak, penting, dan bahagia. Untuk semua inilah akhirnya kita musti sadar, bahwa kita memerlukan orang lain. Dan hidup, barangkali selalu ada di antara dua hal itu.

Selamat menempuh hari-hari yang berbeda, Nency kami. Semoga kamu sehat melulu dan bisa gemuk. Jangan lupa skripsi kamu belum beres.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...