28 July 2016

Dari Resepsi ke Resepsi

Aku kira: Beginilah nanti jadinya. Kau kawin, beranak dan berbahagia. Sedang aku mengembara serupa Ahasveros. --Tak Sepadan, Chairil Anwar.



Jika tidak benar-benar berpikir keras barangkali saya bakalan lupa sudah berapa undangan pernikahan yang saya datangi dalam kurun beberapa bulan ke belakang ini. Bahkan tiga atau empat undangan di antaranya saya memakai batik yang sama. Hal yang kemudian pada pernikahan berikutnya membuat saya dapat dua baju batik gratis. Nency, kawan saya si pengantin yang berikutnya membelikan saya dan teman-teman seangkatan lainnya batik baru untuk dipakai ke pesta resepsinya.

“Biar kalian batiknya seragam,” katanya. Tapi pas di belakang saya, kata si Ryan, Nency kasihan lihat saya. Pasalnya tiap kali ke nikahan teman, saya pakai batik yang itu-itu aja. Entah saya harus geram atau harus terharu.  Yang jelas saya ingin sekali mendamprat semua orang yang menikah tahun ini. Kenapa waktu-waktu resepsinya begitu beruntun? Seperti pembunuhan berantai saja. Mereka tidak saja membuat saya harus rajin menyisihkan uang, mencuci, dan menyiapkan mental buat ketemu mantan. Saya khawatir semakin bertambah usia tampaknya bakalan menambahkan daftar hal-hal yang mungkin akan membuat saya terbunuh dengan cara tidak aduhay, selain diperkosa alien atau tersedak tulang gajah: pernikahan teman.

Bahkan belum habis bulan Juli ini, saya datang ke tiga tempat pernikahan. Akhir bulan ini pun akan ada satu pernikahan lagi. Pernikahan Ayi, seseorang yang (dalam kesaksian teman-teman) dekat dengan saya sejak setahun yang lalu. Sekali lagi mereka mendapati saya sebagai bahan perundungan (bully). Ugh!

Sabtu yang lalu sebelum ke Karawang untuk menghadiri acara pernikahan teman, ibu mampir ke kamar. Ibu duduk di kasur membenahi tepian seprei sambil memperhatikan saya yang sedang bersiap untuk berangkat kondangan. Sesekali ia menyela dan mengomentari penampilan saya. Soal celana, batik, bahkan isi amplop.

“Berapa ngisi amplop kemarin-kemarin?” Tanyanya.

“50.000, Bu.” Jawabku selow.

“Banyak-banyak teuing atuh!” Sahutnya cepat, bahkan agak menyentak. Setelah itu saya ngamplop ke nikahan Frizky, lima belas ribu rupiah. Iseng menururti orang tua sendiri.

Saya benar-benar tumben ngamplop pas nikahan sebelumnya. Jauh sebelum-sebelum itu saya bahkan tidak menyentuh amplop. Ya dalil saya sih menghadiri undangan itu wajib. Kalau ngamplop kan setingkat sedekah sunnah saja. Huehehe. Lagipula saya sering datang dengan rombongan, jadi kalau satu orang di rombongan tidak ikut patungan ngamplop insyaallah tidak ketahuan. Yang penting pas patungan bensin, saya lebihin sedikit.

“Rid, sekarang kalau menikah musti siapkan 45 Juta. Sok geura nabung.” Lanjut ibu tiba-tiba.
Setelah terkesiap sejenak saya segera menghentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan. Sebagai anak pertama, berusia 24 Tahun, hampir beres kuliah, punya semacam pekerjaan, dan sudah tiga kali ditinggal menikah oleh mantan kekasih, maka segera duduk di sisinya adalah hal yang normal untuk dilakukan ketika ibumu bicara soal pernikahan. Artinya, dia mulai serius dan agak emosional.

Kemudian Ibu melanjutkan cerita-cerita seputar ongkos resepsi yang ia dengar dari tetangganya sekaligus kekhawatirannya terhadap empat anaknya.

“Ibu gak seperti orang-orang, tidak ada sawah untuk dijual.” Keluh ibu. Tiba-tiba saya merasa kecil dan tidak berdaya. Kasihan ibu, kasihan ibu, kasihan ibu. Lalu, kasihan bapak.

Tiba-tiba saja saya tidak sengaja berpikir lebih jauh. Bagaimana jika tiba-tiba terjadi inflasi? Nilai rupiah anjlok jauh dan lebih parah dari krisis moneter tahun 90-an? Dengan 45 Juta Rupiah, kita  cuma bisa nraktir gebetan di nasgor kaki lima. Lebih jauh lagi, tiba-tiba saja saya teringat situs-situs bertamplate buruk  bilang: Dajjal sudah muncul. Kiamat sudah dekat. Tay!


II

Dari hampir semua nikahan yang saya hadiri, selain mendapati hal yang membosankan saya juga mendapati ketimpangan. Entah kenapa busana pengantin Pria seringkali seperti yang asal-asalan dibanding pengantin perempuan. Kadang si pria di dandani dengan lipstik tidak rata, dengan warnanya mencolok pula. Terus kopeahnya sedikit longgar dan bajunya berwarna agak kumuh. “Teu adil,” kalau kata Aziz mah. “Ah, kalau saya mah mendingan bikin stelan baru aja,” timpal si Emil.
Tapi ada hal yang lebih jauh dari itu. Ada hal lain yang cuma bisa dibaca dari semacam jejak air mata dari wajah ber-makeup pengantin wanita dan gurat-gurat kelelahan di pengantin pria. Saya seperti melihat kekhawatiran. Atau jangan-jangan cuma saya yang berlebihan?

Pasalnya dalam lima tahun terakhir ini (seperti dilansir dari dream.co.id) Kementerian Agama menemukan peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Dikutip dari laman kemenag.go.id, Rabu, 20 Januari 2015 terdapat data bahwa dari dua juta pasangan menikah, sebanyak 15 hingga 20 persen bercerai. Sementara, jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 131.023 kasus dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Sementara dalam persentase berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dalam lima tahun terakhir terjadi kasus Cerai Gugat mencapai 59 persen hingga 80 persen.

Pada tahun lalu, 2014, 382.231 pasangan bercerai. Itu pasangan manusia loh, bukan kambing etawa. Coba cek ingatanmu, ada berapa pasangan cerai yang kamu kenal dari keseluruhan jumlah itu? Dengan semua angka ini, di sekitar dua atau tiga tahun lagi, tidakkah kita harusnya merasa agak khawatir terhadap mereka yang memutuskan menikah di usia-usia 20 atau 25-an?

Tingginya angka perceraian ini tentu berpotensi jadi sumber masalah sosial. Korban pertama yang paling merasakan dampaknya jelas anak-anak dan istri. Akibat perceraian bukanlah main-main. Apalagi dalam kultur kita keperawananan itu semacam keharusan. Dibanding si Duda, Janda akan sulit untuk menikah lagi. Stigma yang bisa membuat orang waras bilang: cuma soal selaput dara, kenapa laki-laki seperti bicara keterangan hari kiamat di kitab suci?

Buntut panjang dari semua ini adalah menimbulkan gejala-gejala kemiskinan baru. Menjadi duda tidak seburuk menjadi janda. Fitnah juga lebih rawan ditujukan terhadap janda daripada duda, selain itu anak mereka tentu akan mengalami akibat gak enak sepanjang hidupnya. Btw, bisa gak sih orang-orang itu menahan diri untuk tidak membuat kesepakatan buruk (utamanya soal bereproduksi) tanpa berpikir masak-masak? Minimal ikut KB, atau pakai pelindung apa gitu kek.

Di sinilah sepertinya kau boleh berpikir bahwa kuliah salah jurusan itu biasa. Kerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah juga biasa. Apalagi jatuh cinta dengan temannya teman yang juga teman pun juga sangat biasa. Lalu bagaimana dengan menikah? Salah orang? Benar-benar tidak lucu.

Sabtu besok Ayi menikah. Sejak pertama dapat berita dia bakal menikah sampai saya melihat undangannya sendiri, ingin sekali saya mengatakan kalimat selamat atau sejenisnya. Tapi saya mengurungkan niat itu. Entah kenapa. Saya perhatikan lagi undangan itu di grup WhatsApp. Ayi Nafilah & Miftah Farid. Dia menikah dengan Farid, tapi Farid yang bukan saya. Saya makin yakin belum siap menikah. Dan Ayi mendapatkan Farid yang lebih layak daripada Farid yang lain.

Lalu saya membaca ulang pesan BBM yang lain. Pagi tadi seseorang membalas chat: “Iya ga enak badan. Efek kehujanan kayaknya. Aamiin makasih Rid.” Kasihan. Apa semua perempuan selalu luput membawa jaket?

Tiba-tiba saya inget semalam waktu lagi tidur-tiduran dengan Aziz, dan Emil. Saya pura-pura baca buku, Aziz benar-benar nonton drama korea di ponselnya, pakai earphone segala. Sementara Emil entah ngapain. Tiba-tiba Emil menaikkan volume mp3 dari ponselnya dan merebut perhatian kami semua.

“Lagu Tulus yang baru nih, wak!” Serunya menutupi kesalahan.

Aziz menekan pause di ponsel, lalu menoleh pada saya. “Saya suka malas dengerin Tulus. Pas di Mesir, malam-malam saya dengan teman-teman di sana dengerin lagunya ‘Pamit’. Eh pas paginya dapet undangan menikah dari Zakiah (gebetannya).”

Nafsu membaca mendadak hilang. Saya menandai bacaan di perihal krisis ekonomi Mesir di masa Anwar Sadat dan segera mengirim pesan BBM, “kamu sakit? Lekas sembuh ya.” Lalu tidur dan berdoa yang baik-baik untuk mereka yang memiliki keberanian untuk menikah dan mendahuluui kami. Benar-benar hal yang baik: Menikah, beranak, dan berbahagia, seperti ucap Chairil Anwar.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...